When I was in the elementary school, the first sentence that I learn is more or less like the title or being expanded into family members, such as the following:
Saat saya di sekolah dasar, kalimat pertama yang saya pelajari lebih kurang sama dengan judul diatas atau dikembangkan lagi mejadi anggota keluarga, contohnya sebagai berikut:
- Ini ibu Budi : This is Budi's mother
- Ini bapak Budi : This is Budi's father
- Ini kakek Budi : This is Budi's grandfather
- Ini nenek Budi : This is Budi's grandmother
Then the list could go to uncle (paman/om), aunt (bibi/tante), big brother/sister (kakak), little brother/sister (adik), etc.
Kemudian daftarnya memanjang menjadi paman/om (uncle), bibi/tante (aunt), kakak (big brother/sister), adik )little brother/sister), dan sebagainya.
Eventhough I am Indonesian, but my mother tongue is not Bahasa Indonesia, it is Javanese (Bahas Jawa) since I was born from both Javanese parents. So, believe it or not, I was studying Bahasa Indonesia the same as I was studying English, in schools. The differences are, we started to study Bahasa Indonesia earlier, and we are using it as communication media in schools or public offices, or in cities. English is not being studied until we are in junior secondary, and it is rarely being used, even in English classrooms.
Walaupun saya orang Indonesia, tetapi bahasa ibu saya tidak Bahasa Indonesia, tetapi Bahasa Jawa (Javanese) karena saya dilahirkan dari kedua orang tua Jawa. Jadi bisa percaya atau tidak saya mempelajari Bahasa Indonesia seperti mempelajari Bahasa Inggris, di sekolah. Perbedaannya adalah, kami mulai belajar Bahasa Indonesia lebih awal, dan kami menggunakannya sebagai alat komunikasi di sekolah, kantor pemerintah, ataupun di kota-kota. Bahasa Inggris mulai dipelajari saat Sekolah Menengah Pertama, dan jarang digunakan, bahkan di kelas-kelas Bahasa Inggris.
No comments:
Post a Comment